"Sepertinya selama ini tanpa sadar saya mulai lembek."

Impian Terbesar dalam Hidup

Kemarin waktu saat gathering syiar yang dihadiri oleh 27 orang anak syiar (amazing tapi belom puas karena belom 100%), setiap anak syiar diminta menyebutkan impian terbesarnya dalam hidup. Bagian yang paling saya suka adalah mendengar orang lain saat menceritakan mimpinya. Meski saat tiba giliran saya, saya tidak pernah menyebutkannya. Saya selalu bingung menjelaskannya lewat lisan. Saat liqo pun begitu, saat harus menceritakan target dan mimpi saya, seketika saya nge-blank. Saya lebih ahli ketika menuliskannya dibanding membicarakannya. Mungkin, karena bagi saya mimpi mimpi saya lebih istimewa ketika saya menuliskannya (sesuatu yang sya sukai), dibanding membicarakannya.

Kalau ditanya apa impian terbesar dalam hidup. Saya ingin menjadi seorang hamba yang taat, menjadi manusia yang baik. Sebab setiap kali saya bangun tidur dan dalam renungan - renungan saya. Saya selalu menanyakan satu hal yang berulang ” Am I A Good Person?”
Dalam satu hari saya bisa berbuat baik, di hari yang sama saya bisa berbuat buruk. Yah apakah saya orang baik? Selalu saja saya mempertanyakan itu.

Impian lainnya, saya ingin punya rumah di surga. Seperti yang selalu mama minta; sebuah rumah. Entah dengan usaha seperti apa impian itu harus diperjuangkan. Sebelum membangun rumah di surga, saya ingin membangun rumah saya di dunia. Sebuah masjid yang tak perlu megah, tapi ia senantiasa hidup. Hidup dengan ilmu, hidup dengan nilai nilai spiritual. Masjid sederhana yang bisa menjadi pusat peradaban di lingkungannya bertolak. Ia pusat pendidikan, pusat ekonomi, pusat budaya, pusat ilmu pengetahuan. Tak perlu megah..cukup sederhana saja. Tapi ia hidup.

Saya ingin menjadi perempuan yang baik, seorang istri yang baik, seorang ibu yang baik. Ibu yang bisa jadi dunia kecil bagi anak - anaknya. Menjadi segala dongeng bagi putrinya, menjadi segala cerita bagi putranya. Seorang ibu yang bisa mengajarkan anak - anaknya menjaga kalamullah. Dan seorang anak yang bisa memberikan mahkota bagi ibu saya :) Ibu yang kadang kekanakan tapi beliau mengajarkan saya bagaimana kekuatan seorang perempuan, perempuan harus mandiri, perempuan punya harga diri dan kehormatan, perempuan itu mahal dan berharga.

Terakhir.. Saya ingin berdiri di kota bernama stockholm. Menerima sebuah penghargaan paling diinginkan para penulis di dunia ini. Sebuah parameter untuk mengukur kebermanfaatan saya dan semua kata - kata yang selalu saya sukai. Nobel priset I literatur, stockholm swedia.

Tags: mimpi

Pertama

"Sit, kenapa ga lo ajuin ke penerbit aja novel - novel lo? Gue yakin novel - novel lo jauh dari sekedar layak buat terbit."

*tertawa*

"Nulis bukan soal terbit atau ga. Gue cuma pengen, buku pertama yang tertulis atas nama gue adalah buku yang bener - bener bikin gue bangga pernah membuatnya. Bukan cuma buku sekedar galau, bukan pula buku yang membuang waktu orang lain untuk membacanya. Banyak penulis yang udah tua baru menghasilkan buku. Kenapa? Bukan mereka ga pernah nulis. Tapi tulisan pertama yang orang baca adalah hasil tumbuhnya pemikiran mereka.. Jadi yang ingin gue lakukan sekarang adalah banyak latihan dan menyimpan hasil latihan itu sendiri di laptop gue. Nanti, buah latihan yang sudah matang yang akan gue biarkan orang merasakannya :) Agar mereka bukan membuang waktu membaca buku gue. Melainkan menyelami makna hidup meski hanya dalam kesederhanaan kata kata saja :) itu impian muluk gue. Hehe"

-Suatu hari, pembicaraan dengan seorang teman. Di depan perpus pusat. Pembicaraan tentang mimpi yang sederhana.

View My Stats