Di depan Rumahmu

Aku berdiri di depan rumahmu, dengan kaki yang tak lagi muda. Mataku yang mulai rabun akibat katarak yang tak segera kuoperasi. Rambutku memutih hampir sulit mencari yang berwarna hitam. Aku berdiri di depan rumahmu. Menunggumu keluar menemuiku.

Setelah setengah jam lamanya, kamu keluar. Sebab aku memang tak ingin mengetuk atau sekedar mengucapkan salam. Aku takut, kamu tak menginginkan kehadiranku. Tapi tetap aku berdiri di depan rumahmu.

Setelah lewat masa dua puluh dua tahun lamanya, aku tetap mencintaimu seolah cinta itu semuda aku dan sekecil mungil tanganmu dulu yang sering aku genggam ketika kau tertidur dipangkuan ibumu.

Aku berdiri di depan rumahmu, kamu berdiri di hadapanku. Hampir saja aku menangis melihatmu yang telah tumbuh dewasa. Tapi kamu keheranan melihatku, seperti melihat orang asing datang ke rumahmu secara tiba - tiba. Aku ingin memelukmu, sementara kamu mengatakan

'untuk apa bapak kemari?'

Aku berdiri di depan rumahmu, dan hatiku hancur begitu saja. Satu kalimat itu menandakan betapa kamu tidak menginginkan kehadiran laki laki tua di hadapanmu.

'bapak cuma ingin melihatmu nak.'

Kamu diam. Bapak ingin menangis, andai tak mengingat bahwa aku adalah ayah. Ayah harus selalu terlihat kuat dihadapan anak anaknya nak. Apalagi anak laki lakinya.

"Bapak selama ini baik baik saja tanpa saya. Bahkan saya takjub bapak masih ingat punya anak."

Aku berdiri di depan rumahmu, dan aku ingin menangis nak. Masa kecilmu, aku selalu pulang larut malam. Aku selalu suka melihat wajah tertidurmu, aku harus bekerja nak. Sebab saat masih kecil kau sering sakit sakitan. Dan bapak harus mencari uang sebanyak banyaknya, untuk membuatmu tetap hidup. Maafkan bapak, jika tak pernah ada di masa kecilmu. Tapi bapak selalu suka wajah tertidurmu nak.

Usai beranjak dewasa kamu pergi ke negeri sebrang meninggalkan bapak dan ibumu untuk belajar menjadi orang yang lebih pintar untuk negeri kita. Bapak bekerja sekerasnya untuk membuatmu tetap hidup dan makan enak di sana. Maafkan bapak, tak ada di masa remajamu nak..

Begitu dewasa dan kau kembali. Kau pulang dengan amarahmu. Bapak tidak tahu kenapa kamu begitu marah. Kamu pergi, setelah ibumu pun ikut pergi menghadap Tuhan yang begitu kita cintai.

Lalu hari ini, laki laki tua dengan kaki yang tak lagi muda. Mata yang tak lagi jernih. Berdiri di depan rumahmu, setelah sepuluh tahun tak melihatmu.


Aku berdiri di depan rumahmu, rasanya ingin menangis nak. Tapi seorang ayah tak boleh menangis di depan anaknya. Sebab baru saja kau bilang

"Saya tidak pernah memiliki ayah."

Padahal bagiku kau adalah satu satunya anak yang kukasihi. Aku berdiri di depan rumahmu, kau berdiri di hadapanku. Aku merindukanmu, kau melupakanku.

Tags: cerpen fiksi

"Ada satu yang tak pernah meninggalkanmu. Ia mengalir lekat di nadimu. Ia tak berjarak.."

flora-file:

How to keep your venus fly trap happy (and alive) - by flora-file

After my post about cutting the flower buds off when a venus fly trap flowers, I got some questions about how to care for this plant, and specifically people asked how I could possibly keep one alive for ten years. Just follow these handy dandy tips to keep your venus fly trap chomping small invertebrates for years to come.

  1. Sunlight - Unfortunately this plant is not a houseplant. It needs direct sun to survive, hopefully about 8 hours a day. Mine lives on my patio and gets a few hours of direct light in the morning, and then bright indirect light (which is different than shade) for the rest of the day, and it seems to do fine. Plants that don’t get enough light tend to have elongated leaves, stretched out by the plants hopeless attempt to grow toward some source of light. Happy plants have short leaves and lots of traps. They still need light to photosynthesize no matter how many flies or spiders you feed them.
  2. Distilled or Purified Water - These plants are very sensitive to minerals dissolved in water, especially the fluoride and chloride found in most tap water. Not even spring water is okay, as it contains trace minerals that may be detrimental to the health of the plant. Rainwater will probably work, as long as you don’t live next to a coal burning power plant or some other source of gross air pollution. This may be the most common form of venus fly trap neglect, as people that have killed their fly trap have usually not followed this important rule.
  3. Peat Moss or Coco Coir substrate - The venus fly trap is a bog plant that naturally grows in mucky, nitrogen deprived soil. The whole bug eating behavior arose from the need for additional nitrogen that was severely lacking in the soil. Both peat moss and coco coir have extremely low nitrogen content, making them suitable for the needs of this plant. I used coco coir when I repotted mine a couple years ago, and it worked great. Coco coir is much cheaper than peat moss, and also a better choice environmentally.
  4. A steady diet of…nothing! - Don’t give it fertilizers or chemicals, no Dr Shultz or Miracle Grow. And don’t feed it hamburger either, that’s just wrong. If it is healthy it will catch bugs all by itself, almost like its evolved to catch bugs or something. Keep the substrate constantly moist. I keep mine in a container that doesn’t drain and keep it in standing water constantly. Whatever happens, don’t let it dry out.

If you follow these simple steps your fly trap should grow old of the bulb and long in the tooth. I’m not saying this is the only way to take care of your fly trap, but its how I take care of mine. And after 10 years its still working. Good luck, and garden on!

(via brilliantbotany)

View My Stats